Regional

Heboh Penyebar Aliran Tilaco di Maros, Mengaku Akan Kirim Surat ke Jokowi, Ini Kondisi Kejiwaannya

Warga Kabupaten Maros Sulawesi Selatan dihebohkan dengan munculnya seorang yang mengaku membawa sebuah aliran kepercayaan baru. Aliran tersebut bernama aliran Iman Tilaco. Penyebarnya adalah A Sulaeman (39).

Pria ini menyebarkan surat yang menyatakan dirinya membuat aliran kepercayaan bernama Iman Tilaco, Selasa (18/5/2021). Bahkan A Sulaeman akan mengirimkan surat kepada Presiden RI Jokowi. Dirinya memohon agar kolom agama di KTP nya diubah menjadi aliran kepercayaan terhadap kesempurnaan Tuhan yang Maha Esa.

Ia juga mengimani kepercayaan lain yang menurutnya tidak bertentangan dengan falsafah Pancasila. Belakangan diketahui Sulaiman adalah seorang yang menderita gangguan kejiwaan. Ia kini ditampung di rumah singgah milik Dinas Sosial Maros.

Berdasarkan surat pernyataan yang diterbitkan oleh Dinas Sosial, dijelaskan awal mula kejadian tersebut ketika pihaknya menemukan Sulaiman. Sulaiman merupakan orang telantar yang berpindah pindah dari mesjid ke mesjid, yang kemudian di bawa ke Dinas Sosial pada 25 April 2021. Pria yang mengaku sebagai pendiri aliran tilaco tersebut saat ini ditampung di Rumah Singgah (RPTC) Dinas Sosial Maros.

Kemudian, Dinas Sosial Maros melakukan Assessment kepada Sulaiman. Kemudian ditemukanlan fakta bahwa warga Taroada tersebut menderita gangguan jiwa, dibuktikan dengan surat keterangan jiwa dari RSKD Dadi Makassar. Diketahui bahwa dirinya saat ini sedang dalam proses perceraian dengan istrinya.

Pantauan dari Dinas Sosial, selama tinggal di rumah singgah, Sulaiman menunjukkan perilaku normal, makan, minum dan tidur saja. Kemudian pada tanggal Senin (17/05/21) dia menyerahkan surat permintaan izin pendirian aliran Tilaco kepada Pemda Maros. Menyikapi hal tersebut, Dinas Sosial bersama Polsek Mandai, Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Agama dalam Masyarakat (PAKEM) dan aparat setempat

Mengonfirmasi perihal surat yang diserahkan ke Pemda. Dan saat dikonfirmasi, Sulaiman membenarkan hal tersebut. Dinas Sosial kemudian memutuskan untuk mengambil tindakan untuk dipulangkan ke kampung halamannya, Soppeng.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak sembilan orang warga Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, yang diduga menganut aliran sesat dibina untuk bertaubat dan kembali ke ajaran Islam yang baik dan benar. Pembinaan dilakukan MUI dan pihak Pemdes Bojong di Musala Desa Bojong, dengan mengucap dua kalimat syahadat, Jumat (21/5/2021). Kepala Desa Bojong, Uyeng Handoko, mengatakan bahwa sembilan warganya tersebut dituntun mengucapkan deklarasi agar tak kembali ke ajaran sesat dengan menandatangani perjanjian hitam di atas putih serta dipandu untuk mengucap dua kalimat syahadat.

"Kami menyikapi hal ini secara kekeluargaan, yang terindikasi langsung ada 9 orang, tapi ada sebagian keluarga jadi kami khawatirkan 17 orang yang masih keluarga ikut," katanya. Kades bersyukur warga yang dibina mau mengikuti arahan dari MUI dan pemdes Bojong Kecamatan Karangtengah. "Kami tak bisa menyimpulkan ini aliran apa hanya yang jelas ada indikasi, tugas kami untuk melakukan pencegahan dan pembinaan agar tak menyebar."

DJ (50), warga Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengaku khilaf tak melakukan kewajiban salat lima waktu dan salat Jumat. Ia juga mengaku malas melakukan kewajiban puasa saat bulan Ramadan. Hal tersebut terungkap saat Majelis Ulama Indonesia Desa Bojong melakukan pembinaan dan pencegahan kepada sembilan warga yang diduga menyimpang.

Pembinaan dilakukan di Aula Desa Bojong, Jumat (21/5/2021). Pembinaan dan pencegahan berlangsung selama satu jam lebih oleh tim yang telah dibentuk pemerintah Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Selesai dilakukan pembinaan dan pencegahan, serta mengucapkan deklarasi dan dua kalimat syahadat, beberapa warga yang telah kembali ke ajaran Islam yang baik dan benar enggan untuk diwawancara.

KH Aceng Japar Sodik tak bisa menahan air matanya saat sembilan warga yang diduga menyimpang mengikuti aliran sesat kembali mengucap dua kalimat syahadat. Ketua MUI Desa Bojong KH Aceng Japar Sodik tak bisa menahan air matanya saat sembilan warga yang diduga menyimpang mengikuti aliran sesat kembali mengucap dua kalimat syahadat. Sekretaris MUI H Insan Budiman membenarkan bahwa mereka pada dasarnya hafal masalah keagamaan.

"Mereka menyadari kekhilafan. Aapun lebih jauh setelah kami konfirmasi dan kami tanyakan ternyata mereka mengaku tak bisa melaksanakan salat hanya malas dan jenuh," kata Insan. Insan mengatakan, mengenai kegiatan di hutan, mereka mengaku hanya melakukan refreshing dan tak melakukan ritual apa pun. Pemerintah Desa Bojong bersama dengan MUI Desa Bojong dan Persatuan Asatid Karangtengah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melakukan pembinaan terhadap DJ (50) seorang warga Kecamatan Karangtengah yang diduga menganut aliran sesat.

Kepala Desa Bojong Uyeng Handoko telah mendapat informasi beberapa warga sudah ikut pengaruh DJ. Dalam investigasi selama tiga hari, kepala desa mendapat fakta bahwa DJ dan sembilan warga yang sudah ikut di dalamnya tidak mewajibkan salat dan puasa. "Semua rambutnya dicat merah dan mereka sering tidak berpakaian hanya memakai celana saja," ujar Kades ditemui di ruangannya, Kamis (20/5/2021).

Kepala desa juga menyebut hasil penelusuran di media sosial. Dimana akun media sosial aliran sesat ini menggunakan nama aneh aneh seperti raja Dajal dan iblis. Kepala desa menjelaskan kronologis awal ia mendapat informasi hari Senin dari warga yang melaporkan ke Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa.

Warga melapor karena resah melihat beberapa warganya yang biasa rajin ke masjid saat puasa malah tidak berpuasa juga tak melakukan salat. "Senin itu juga saya langsung investigasi ke lapangan, saya mengobrol dengan orang yang dimaksud," ujar kepala desa. Ia mengatakan, tak hanya sekali datang ke rumah yang dimaksud namun sampai tiga kali berkunjung.

"Hari Selasa sudah diadakan evaluasi di desa, kami rencanakan investigasi tambahan dan mengundang MUI dan ulama bermusyawarah," katanya. Kepala desa menduga ada penyimpangan, berangkat dari dugaan tersebut rencananya Jumat (21/5/2021) besok yang bersangkutan akan dipanggil oleh MUI untuk lebih mendalami sejauh mana aliran ini. "Kami tak bisa memvonis sesat atau tidaknya aliran ini, yang bersangkutan akan dipanggil oleh pihak desa apakah itu betul indikasi sesat, kami juga akan menempuh langsung tahapan pembinaan dan diberi pencerahan," katanya.

Kepala desa mengatakan, musyawarah akan dilakukan oleh tim yang terdiri dari empat orang. Kepala desa menyebut ada masyarakat yang ikut sekitar tujuh orang warga sekitar namun mereka sudah di Islamkan lagi dengan mengucap syahadat. "Ciri ciri eksklusif mereka memiliki rambut merah, yang ikut baru kerabat dekat," katanya.

Kepala desa menyebut DJ selalu bilang jika salat cukup niat gerakan hanya olahraga, lalu salat Jumat cukup diam di tempat yang sepi bersemedi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.